GOOGLE ANALYTICS:

Mengenal dan Memahami Semua Jenis Report di Google Analytics

Setelah bersusah payah memasang tracker Google Analytics di website dan memahami istilah-istilah dasarnya, kini kita akan menghadapi step yang biasanya paling memusingkan. Yaitu mulai menggunakannya.

Dapatkan Strategi Marketing Untuk Meningkatkan Traffic Dan Penjualan

Setelah bersusah payah memasang tracker Google Analytics di website dan memahami istilah-istilah dasarnya, kini kita akan menghadapi step yang biasanya paling memusingkan. Yaitu mulai menggunakannya.

Sudah siap?

Silahkan buka Google Analytics. Mungkin saat ini sudah ada beberapa data yang masuk yang bisa digunakan sebagai bahan belajar.

Let’s face it. Tidak semua orang excited melihat grafik dan angka dan mungkin Anda akan kaget melihat dashboard GA yang dipenuhi dengan tabel, grafik, dan angka-angka yang mungkin belum diketahui apa artinya.

Tapi sekarang Anda harus siap karena kita akan membahasnya satu per satu.

Mengenal Interface Google Analytics

Reporting Sidebar

analytics report interface sidebar

Disini kita bisa menu reporting yang ada Google Analytics yang sudah disusun dalam empat kategori utama yaitu Audience, Acquisition, Behavior, dan Conversions. Kita akan membahas detilnya satu per satu di artikel ini.

Date Range

analytics report interface date range

Fitur ini memang sederhana tapi sangat penting. Karena dengan fitur ini kita bisa menentukan data yang ditampilkan berdasarkan rentang waktu tertentu.

Secara default Google Analytics akan menunjukkan rentang waktu 30 hari terakhir dari aktifitas di website kita.

Dengan fitur ini kita juga bisa membandingkan data dari dua rentang waktu yang berbeda. Misalnya, jika kita baru saja mengganti server, kita bisa tahu apakah hal tersebut mempengaruhi traffic kita dengan membandingkan data dari seminggu sebelum mengganti server dengan seminggu sesudahnya.

Segment

analytics report interface segment

Fitur ini digunakan jika kita ingin menggunakan set data tertentu atau membandingkan beberapa set data di Google Analytics. Secara default akan digunakan segment “All Users”. Kita bisa menambahkan sampai dengan empat set data secara bersamaan.

Graph

analytics report interface graph

Graph atau grafik adalah tampilan basic yang akan kita temukan hampir di semua report di Google Analytics. Grafik ini akan mem-plot data traffic di website kita secara otomatis.

Kita juga bisa mengganti metrics apa yang digunakan di grafik atau membandingkan beberapa metrics secara bersamaan.

Berikutnya kita akan bahas semua kategori report di Google Analytics.

Kenali Profil Visitor Anda Lewat Audience Report

Report pertama yang kita bahas adalah Audience Report. Secara singkat report ini menunjukkan karakteristik dari visitor di website kita, sehingga akan mempermudah kita membuat Customer Profile untuk keperluan merancang campaign nantinya.

Audience Report #1 – Demographic

Demographic Reports ini dapat membantu kita untuk break down visitor kita berdasarkan rentang umur dan juga gender. Tapi perlu diketahui tidak semua visitor bisa ditentukan data rentang umur dan gender nya, hanya visitor tertentu saja yang bisa.

Secara default repot ini tidak langsung tersedia, kita perlu mengaktifkannya lebih dahulu lewat pengaturan Property atapun langsung dari Demographic Reportnya sendiri.

google analytics demographic report

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, GA tidak bisa secara langsung mengetahui profil demografi dari visitor kita jadi Google membutuhkan data tambahan dari pihak lain.

Dengan mengaktifkan report ini kita mengizinkan Google Analytics untuk mengumpulkan data tambahan dari DoubleClick cookie dan juga Device Advertising ID. Detil cara pengumpulan datanya sepertinya terlalu panjang untuk dibahas disini, mungkin nanti saja di artikel lain.

Yang utama dan lebih penting adalah kita jadi punya data demografi yang bisa kita manfaatkan setelah mengaktifkan fitur ini.

Demographic report berisi dua data utama yaitu Age (Rentang Umur) dan Gender (Jenis Kelamin).

google analytics demographic report google analytics demographic report

Dalam demographic report kita mengetahui komposisi dari umur dan jenis kelamin dari visitor kita.

Apakah umumnya website kita dikunjungi laki-laki atau perempuan, adakah rentang umur tertentu yang menjadi mayoritas dari visitor kita. Jawaban dari semua pertanyaan itu bisa kita temukan disini.

Audience Report #2 – Interest

google analytics interest report

Interest Report bisa membantu kita untuk break down visitor berdasarkan interest tertentu yang membuat mereka engage. Enaknya, report ini sudah terkategori dengan baik sehingga semakin mempermudah kita untuk menganalisis.

Nah, kombinasi demographic dan interest ini dapat menjadi insight yang berguna saat merancang konten ataupun campaign.

Misalnya website kita kebanyakan dikunjungi oleh pria berusia 25 sampai 34 tahun, dan mereka mayoritas tertarik dengan aktivitas outdoor, kita bisa memasang banner yang menjual produk camping atau hiking yang kira-kira cocok dan diminati demografi tersebut. Produknya apa ya terserah Anda saja. Ingat untuk selalu tes dan ukur.

Demographic report ini juga bisa kita manfaatkan untuk mengidentifikasi segment market baru yang sebelumnya belum kita explore.

Audience Report #3 – Geo (Language & Location)

analytics report geo country

Kalau kita ingin tahu umumnya visitor kita berasal darimana, kita bisa menggunakan Geo Report. Di report ini kita bisa break down visitor kita berdasarkan lokasi visitor dan juga bahasa.

Jika kita mentarget negara tertentu dalam suatu campaign, kita bisa menganalisa apakah campaign tersebut efektif atau tidak berdasarkan data dari report ini.

Untuk lokasi sendiri kita bisa break down berdasarkan Country ataupun City. Tapi perlu diingat bahwa lokasi disini merupakan lokasi estimasi yang diambil dari data IP address, jadi belum 100% pasti bahwa visitor kita memang berdomisili di lokasi tersebut.

analytics report geo language

Sama halnya dengan lokasi, data bahasa di Analytics merupakan data yang diambil dari settingan bahasa pada browser yang mereka gunakan.

Jadi jika kita menemukan bahwa visitor kita banyak berasal dari Indonesia tapi mayoritas menggunakan Bahasa Inggris, ini bukanlah kesalahan data. Karena memang banyak orang indonesia yang menggunakan settingan Bahasa Inggris pada browsernya.

Audience Report #4 – Behavior

Behavior Report ini sangat memudahkan kita untuk mengetahui karakteristik visitor dari bagaimana mereka berinteraksi di website kita.

Disini kita bisa menemukan data New vs Returning yang mengindakasikan apakah kita berhasil mengakuisisi user baru yang belum mengetahui website kita sama sekali atau apakah kita juga berhasil mengajak visitor lama kembali mengunjungi website kita.

Frequency & Recency report menunjukkan seberapa sering visitor kita kembali ke website kita, dan berapa lama rata-rata rentang waktu antar kungungan.

Di Engagement Report kita bisa break down visitor berdasarkan berapa banyak halaman yang  telah mereka buka dan berapa lama mereka di dalam website kita. Data ini berguna untuk memahami level engagement dari visitor kita.

Kita bisa juga melakukan segmentasi lewat secondary dimension pada behavior report ini berdasarkan traffic source, location, device, dan lain sebagainya untuk lebih memahami karakteristik suatu user.

Audience Report #5 – Technology

Technology report ini salah satu favorit saya, yang mungkin sangat jarang yang menyadari betapa bergunanya data dari report ini.

Di report ini kita bisa break down karakteristik visitor dari browser apa yang mereka gunakan dan juga operating system nya.

Data ini sangat berguna untuk memahami browser apa yang paling populer diantara visitor kita dan jika Anda kebetulan juga berprofesi sebagai developer web, anda bisa mendiagnosa apakah ada issue yang terkait dengan Browser/OS tertentu.

Audience Report #6 – Mobile

Mobile report ini bisa membantu kita break down visitor berdasarkan device apa yang merka gunakan. Apakah itu Desktop, Mobile, atau Tablet. Dengan adanya data ini kita bisa ketahui kearah mana pengembangan website perlu dilakukan.

Jika ternyata website kita banyak dikunjungi dari mobile device dan ternyata website kita belum responsive maka PR kita selanjutnya adalah membuat versi responsive dari website kita agar visitor lebih menikmati konten di website kita.

Audience Report #7 – User Flow

Buat yang hobi menganalisa Funnel marketing maka report ini akan menjadi salah satu report favorit.

Disini kita bisa melihat alur interaksi yang terjadi di website kita, dan canggihnya lagi kita bisa membedakan alur interaksinya berdasarkan Dimension tertentu, apakah itu traffic source, device, dan lain sebagainya.

Kita juga bisa mengetahui seberapa besar persentase drop off dari alur interaksi tertentu, apakah ada satu step dalam funnel kita yang memberikan drop off sangat besar. Dengan mengetahuinya kita bisa tahu dibagian mana dalam funnel yang mesti diperbaiki.

Optimalkan Performa Digital Marketing Lewat Acquisition Report

Coba bayangkan sebuah supermarket yang dikunjungi orang yang berbeda setiap harinya, masing-masing pengunjung berasal dari tempat berbeda tapi ujung-ujungnya bisa sampai di supermarket tersebut.

Ada yang datang ke supermarket setelah melihat promo di baliho, ada yang datang karena diajak temannya, datang karena memang sudah langganan disana, dan lain sebagainya.

Jika owner dari supermarket tersebut bisa tahu dan mengerti darimana banyaknya pelanggannya berasal, akan sangat memudahkan untuk menentukan kemana arah marketing akan dilakukan, lewat media apa dan dimana harus memasangnya.

Sama seperti supermarket, sebuah website juga seperti itu. Traffic atau pengunjung website juga datang dari berbagai sumber. Yang di dalam Google Analytics bisa kita lihat dengan mudah datanya lewat Acquisition Report.

Acquisition Report #1 – All Traffic

1. Source / Medium

Di bagian ini kita bisa melihat hasil breakdown dari semua traffic source yang masuk ke website kita.

Source (atau traffic source) adalah asal dari traffic kita, yang bisa diketahui dari nama domainnya ataupun lewat parameter yang kita buat lewat utm_source.

Sebagai contoh:

  • Dalam hal google / organic, “google” adalah traffic source
  • Dalam hal bing / cpc, “bing” adalah traffic source
  • Dalam hal hipwee / referral, “hipwee” adalah traffic source

Catatan: Di Google Analytics, nama source yang tercantum bersifat case sensitive, artinya google, Google, dan GOOGLE akan dianggap sebagai source yang berbeda.

Medium (atau traffic medium) adalah kategori dari traffic source yang sudah diidentifikasikan oleh Google ataupun lewat parameter yang kita buat lewat utm_medium.

Sebagai contoh:

  • Dalam hal google / organic, ‘organic’ adalah medium
  • Dalam hal bing / cpc, ‘cpc’ adalah medium
  • Dalam hal hipwee / referral, ‘referral’ adalah medium

Catatan: Di Google Analytics, medium juga bersifat case sensitive, artinya cpc, dan CPC akan dianggap sebagai medium yang berbeda.

2. Channels

analytics report channels

Google Analytics sudah mengkategorikan beberapa traffic yang sejenis berdasarkan mediumnya yang kemudian disebut sebagai Channels, sehingga kita bisa melihat summary per kategorinya di bagian channels ini.

Berikut beberapa channels yang bisa kita temukan:

– Direct Traffic

Ibarat orang yang datang ke supermarket karena memang sudah langganan dan hanya mau belanja disana, Direct Traffic ini adalah kunjungan dari orang-orang yang memang sudah tahu dan mengenal website kita dan mengunjungi website kita dengan mengetikkan langsung alamat website di browser.

Dari Direct Traffic kita bisa dapatkan beberapa insight seperti…

  • Berapa banyak kunjungan dari pengunjung loyal di website kita
  • Seberapa besar keberhasilan campaign branding kita
  • Sebagai salah cara mengukur keberhasilan campaign marketing non-online (misalnya iklan di TV atau Radio) yang umumnya kita hanya menyebutkan nama domain saja dan orang yang engage dengan iklan kita harus mengetikkan sendiri nama domain tersebut di browser.

– Organic Search

Organic search menunjukkan traffic yang datang dari pengunjung yang mengklik hasil pencarian di search engine seperti Google, Bing, Yahoo, dll.  Biasanya muncul dibawah iklan dan menunjukkan seberapa bagus halaman tersebut teroptimasi di Search Engine. Organic traffic dari search engine memiliki medium yang sama yaitu “organic”.

Contoh traffic yang dikategorikan Organic Search:

  • Google / organic
  • Bing / organic
  • Yahoo / organic

Hasil pencarian yang diklik merupakan hasil pencarian yang bukan berasal dari iklan, maka dari itu disebut sebagai organic search.

Untuk mengoptimalkan traffic jenis ini bisa dengan menggunakan teknik SEO (Search Engine Optimization). Dan umumnya traffic jenis ini tingkat konversinya cukup bagus, tinggal bagaimana kita bisa mendapatkan traffic yang lebih besar dengan menargetkan beberapa kata kunci sekaligus (misalnya keyword “jual baju online murah”).

– Paid Search

Sama seperti Organic Search, Paid search adalah traffic yang juga datang dari pengunjung yang mengklik salah satu hasil pencarian di search engine.

Bedanya adalah traffic ini datang dari hasil pencarian berbayar dan program periklanan PPC (Pay Per Click) seperti Adwords atau Bing Ads. Biasanya hasil pencarian paid ini muncul di bagian atas SERP (Search Engine Result Page). Traffic yang dikategorikan paid search memiliki medium yang sama yaitu ‘cpc’, ‘ppc’, atau ‘paidsearch’.

Contoh:

  • Google / cpc
  • Bing / cpc

– Referral Traffic

Jenis traffic Referral = rujukan ini berasal dari website lain yang memberikan link ke salah satu halaman di website kita. Jadi calon pengunjung kita akan lebih dahulu browsing di website lain sampai kemudian dia menemukan link ke website kita dan akhirnya mengunjungi website kita.

MIsalnya pengunjungan terlebih dahulu membaca artikel di situs berita seperti Detik.com dimana di artikel tersebut mengambil referensi dari salah satu artikel di website kita dan mencantumkan link sumbernya. Visitor kemudian mengklik link tersebut. Dan di Google Analytics kita bisa melihat ada data referral traffic masuk dari Detik.com

Referral traffic akan memiliki medium yang sama di Analytics yaitu “referral”

Ada 2 hal yang bisa kita jadikan insights dari Referral Traffic:

  • Karena berasal dari link yang ada di website lain. Artinya, kita bisa mengetahui reputasi website kita di mata website lainnya. Semakin banyak website yang memberikan link balik ke website kita berarti reputasi kita semakin bagus (tentunya jika kontennya positif).
  • Dengan mengetahui jenis konten seperti apa yang banyak mendapat sorotan dari website lain (misalnya: konten yang unik, lucu, authority tinggi, topiknya booming, dsb) kita bisa menerapkan strategi yang sama untuk memperbanyak konten tersebut sehingga berpotensi mendapatkan lebih banyak lagi Referral traffic.

– Social

Social sebenarnya adalah Referral Traffic juga, tapi Google Analytics membuat kategori refferal khusus untuk situs-situs yang merupakan social media seperti Facebook, Twitter, Pinterest, dan lain sebagainya.

– Display

Traffic ini berasal dari banner yang terpasang di website lain, baik secara langsung maupun lewat program periklanan seperti Google Display Network.

Biasanya traffic dalam display channel ini memiliki medium berupa ‘display’, ‘cpm’, atau ’banner’

– Email

Traffic ini berasal dari aktifitas email marketing yang kita lakukan. Jika kita mengirimkan email kepada list subscriber kita, baik berupa email newsletter ataupun email sales. Jika dalam email tersebut ada link ke website kita dan diklik oleh subscriber kita, Google Analytics akan mengkategorikan traffic tersebut sebagai Email.

– (Other)

(Other) berasal dari traffic yang belum dikategorikan secara khusus oleh Google Analytics

Cara Merubah Channel Default di Google Analytics

Kita juga bisa merubah pengkategorian channel di Analytics untuk menyesuaikan dengan kebutuhkan kita. Untuk melakukannya silahkan lakukan langkah-langkah berikut:

Step 1: Masuk ke ‘Admin’ section di Akun Google Analytics, dan pindahkan ke view utama yang ingin dirubah.

Step 2: Di bagian ‘View’ section, klik pada Channel settings > Channel Gouping

analytics report channels setup

Step 3: Klik link ‘Default Channel Grouping’

analytics report channels setup

Step 4: Disini kita akan mengedit kategori default yang ada. Misalnya kita ingin traffic yang datang dari website kita yang lain (cth: xyz.com) juga dibaca sebagai ‘Direct Traffic’.

Untuk melakukannya, klik icon pensil disamping Direct Channel.

analytics report channels setup

Step 5: Klik tombol ‘OR’:

analytics report channels setup

Jangan click tombol ‘AND’:

analytics report channels setup

Hati-hati dengan tombol ‘AND’, setiap kali edit salah satu channel default, hindari tombol tersebut. Penggunaannya tidak tepat dan bisa merusak data anda.

Jangan ubah pengaturan default channel di Analytics kecuali benar-benar yakin apa yang dilakukan dan apa yang akan dirubah.

Step 6: Tambahkan rule baru seperti spesifikasi berikut

analytics report channels setup

Step 7: Klik tombol ‘done’ dan kemudia klik tombol ‘save’ di bagian bawah

Nah, setelah selesai melakukan semua step diatas, untuk seterusnya data traffic dari xyz.com akan masuk dalam kategori direct traffic.

Catatan:

Setiap perubahan pada default channel bersifat permanen terhadap rule traffic baru yang dibuat. Tapi, data traffic sebelumnya tidak akan berubah.

analytics report search console

Search Console adalah fitur dari Google Analytics yang bisa membantu kita untuk melihat performa search campaign kita langsung dari interface Google Analytics.

Dengan demikian kita akan lebih mudah mengoptimasi organic traffic karena kita akan punya insight tambahan dengan mengkombinasikan data dari search console dengan data lainnya di Google Analytics.

Secara default report ini belum terkonfigurasi, kita perlu menghubungkan dulu akun Search Console kita ke akun Google Analytics.

Cara menghubungkan Search Console dengan Google Analytics bisa dilihat disini.

Acquisition Report #3 – Social

analytics report social

Berbeda dengan ‘social’ pada default marketing channel di All Traffic. ’Social’ disini adalah report yang membahas dengan lebih detail lagi aktifitas social media yang berkaitan dengan website kita.

Kita dapat melihat social media mana yang memberikan traffic lebih besar ke website kita dan juga bisa kita breakdown lagi sampai ke level conversion untuk melihat konversi tiap social media.

Sehingga, kita bisa lebih terarah lagi dalam membuat campaign dengan mengetahui social media mana yang berikan impact lebih besar untuk website kita.

Acquisition Report #4 – Campaign

Campaign report ini adalah hasil dari campaign yang kita definisikan lewat UTM Tracking, dan jika kita menghubungkan Google Analytics dengan Adwords, kita juga bisa lihat performa tiap campaign kita di Adwords di report ini.

Sebelum mendapatkan data campaign, kita perlu buat dulu suatu campaign yang bisa dilakukan dengan tool gratis ini -> https://ga-dev-tools.appspot.com/campaign-url-builder/.

Contoh:

Jika kita akan membuat suatu campaign yang bertujuan untuk dapatkan traffic dari media offline dan dipromosikan dalam bentuk QR Code, kita bisa melakukannya dengan cara berikut:

  • Website URL = https://tondinugraha.com
  • Campaign Source = Majalah
  • Campaign Medium = QRCode
  • Campaign Name = Promosi Offline

Sehingga url campaign kita menjadi:

-> https://tondinugraha.com/?utm_source=Majalah&utm_medium=QRCode&utm_campaign=Promosi%20Offline

Setelah itu kita bisa buat QR Code yang berisi link tersebut, dan setelah dipromosikan dan mulai mendapat traffic kita bisa lihat hasil campaign ‘Promosi Offline’ di Campaign report.

Buat Konten Yang Lebih Optimal Dengan Menganalisa Behavior Report

Behavior Report #1 – Site Content

Dalam section ini Google Analytics menunjukkan data tentang bagaimana visitor kita berinteraksi dengan tiap halaman di website kita.

1. All Pages

analytics report behavior all pages

All Pages report ini menunjukkan halaman mana saja yang paling banyak dilihat di website kita, dan dapat kita jadikan sebagai indikator performance tiap halaman.

Kita bisa melihat halaman mana saja yang mendapatkan performa paling baik berdasarkan pageviews, bounce rate, unique pageviews, avg time on page, dan lain sebagainya.

2. Landing Pages

analytics report behavior landing pages

Dalam report ini kita bisa mengetahui halaman mana yang pertama kali dikunjungi visitor saat masuk ke website kita.

Apakah halaman yang muncul di report ini memang benar halaman yang kita targetkan sebagai landing page utama di website kita atau malah muncul halaman lain yang kita tidak melakukan campaign apapun disana.

Kalau kita jeli, dengan sedikit kreatifitas kita bisa dapatkan insight tersembunyi lewat report ini.

Contohnya adalah dengan mengkombinasikan informasi di report ini dan juga tambahan data ‘organic traffic’ melalui secondary dimension, kita bisa ketahui kira-kira keyword apa saja yang dijadikan sebagai search term ketika user menemukan website kita.

Dan dengan bantuan teknik SEO kita bisa manfaatkan insight tersebut untuk meraih traffic yang lebih banyak lewat search engine.

Contoh kombinasi lainnya bisa dilihat di artikel ini.

3. Content Drilldown

analytics report behavior content drilldown

Jika website kita memiliki struktur yang terdiri dari beberapa folder dan subfolder. Kita bisa gunakan Content Drilldown ini untuk melihat performa masing-masing folder dan subfolder.

Kita juga bisa ketahui bagian mana saja yang memiliki performa terbaik di website kita.

Contohnya jika kita membagi struktur url website dengan beberapa kategori artikel kita bisa melihat performa tiap kategori.

Atau jika website kita berbentuk toko online dengan beberapa kategori produk, dengan report ini bisa dilihat kategori produk apa yang paling banyak dilihat.

Jika website kita punya beberapa kategori artikel tapi dalam implementasi strukturl URL nya tidak terbagi dalam beberapa folder dan subfolder, kita tidak bisa melihat performa tiap bagian dalam report ini.

Tapi, kita bisa menggunakan fitur lainnya untuk mendapatkan insight yang sama, yaitu dengan content grouping.

Cara implementasi content grouping bisa dilihat disini.

4. Exit Pages

analytics report behavior exit pages

Di report ini kita bisa mengetahui halaman mana yang terakhir dikunjungi visitor sebelum keluar dari website kita. Secara global, halaman yang sering menjadi exit page bukan mengindikasikan halaman tersebut performanya kurang bagus. Karena report ini hanyalah summary dari aktifitas visitor.

Tapi jika kita menganilis dalam konteks funnel marketing, informasi di report ini sangat berguna untuk menemukan di halaman mana visitor banyak yang drop dan kita bisa mengoptimasi halaman tersebut.

Behavior Report #2 – Site Speed

Kalau kebetulan kita juga memiliki keahlian developing website, informasi dalam Site Speed ini sangat berguna untuk mengoptimalkan performa website kita dari segi kecepatan dan bagaimana pengaruh kecepatan website terhadap aktifitas visitor.

1. Site Speed Overview

analytics report behavior site speed overview

Di bagian ini kita bisa lihat summary dari performa rata-rata kecepatan loading tiap halaman dalam website kita. Selain itu juga ada data redirection time, domain lookup, page download, server connection, dan server response.

Angka-angka tersebut bisa membantu kita memahami langkah apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan performa website kita.

Contohnya jika ternyata website kita memiliki page download time yang tinggi, kita bisa gunakan teknik reducing image size untuk mengurangi download time

Mungkin nanti akan dibahas detil cara optimasi tiap metrics ini di artikel lain.

2. Page Timings

Informasi dalam report Page Timings ini bisa digunakan untuk menemukan rata-rata loading time untuk halaman-halaman yang paling banyak dikunjungi di website kita.

Untuk halaman yang loading time nya tinggi tapi ternyata cukup populer, kita bisa lakukan optimasi page load di halaman tersebut dan juga di halaman lainnya.

3. Speed Suggestions

analytics report behavior site speed suggestion

Di report ini Google Analytics memberikan referensi yang sangat berguna tentang berapa sebaiknya page load yang harus kita target untuk tiap halamannya.

Kita bisa mulai untuk melakukan optimasi di halaman yang paling banyak traffic nya terlebih dahulu sebelum pindah ke halaman lainnya.

Untuk rekomendasi cara apa saja yang bisa dilakukan untuk optimasi page load bisa dilihat di Google Page Speed Tool.

Bagi praktisi SEO, ini adalah report yang sangat berguna untuk mendapatkan insight tambahan mengenari keyword apa lagi yang bisa ditarget untuk campaign SEO.

Dengan report ini kita bisa melihat aktifitas visitor saat menggunakan fitur pencarian di website kita.

Tapi, sebelum fitur ini bisa mendapatkan data kita. Kita perlu melakukan konfigurasi terlebih dahulu. Tidak sulit kok, tinggal akses halaman Admin di Google Analytics dan lakukan pilih view mana yang akan digunakan.

Admin Page >> View Section >> View Settings

analytics report behavior site search setting

Kita tinggal tentukan parameter apa yang digunakan website kita ketika menampilkan hasil pencarian, dan kemudian masukkan parameter tersebut di kolom query parameter seperti gambar di atas.

1. Site Search Overview

analytics report behavior site search overview

Dalam site search overview ini kita bisa pelajari ‘search term’ apa yang digunakan visitor ketika melakukan pencarian. Dan juga kita bisa ketahui metrics penting lainnya yang berkaitan dengan aktifitas pencarian. Seperti ‘Time After Search’, ‘Average Search Depth’, ‘Search Exits’, dsb.

2. Usage

analytics report behavior site search usage

Section Usage ini bisa membantu kita mengetahui pengaruh search box terhadap user experience di website kita.

Kita bisa melihat apakah aktifitas pencarian mempengaruhi bounce rate, average session duration atau bahkan conversions di website kita.

Kalau kita melihat bahwa penggunaan search box di website kita cukup tinggi, kita bisa lakukan optimisasi untuk menempatkan search box di tempat yang lebih strategis di website kita.

3. Search Terms

Report ini menunjukkan keyword apa yang diketikkan visitor saat melakukan pencarian. Dan juga menunjukkan statistik tiap keywordnya berdasarkan total searches, exits, dan lain sebagainya.

Akan menjadi tambahan insight yang berguna untuk riset keyword SEO kita.

4. Search Pages

Disini kita akan menemukan metrics yang sama seperti di report Search Terms. Tapi fokus di report ini adalah menunjukkan di halaman mana visitor kita melakukan pencarian.

Dari data di report ini kita bisa melihat halaman mana yang cukup besar aktifitas pencariannya dan kita pun bisa gunakan halaman tersebut untuk sebuah campaign ataupun keperluan lainnya.

Behavior Report #4 – Events

Dalam Section Events di Behavior Reports ini, kita bisa tracking suatu interaksi yang spesifik di website kita. Seperti file downloads, video plays, atau bahkan link click di landing page.

Tapi sebelumnya kita perlu lebih dahulu membuat event di website kita. Penentuan event apa saja yang akan di track sebaiknya perlu dikonsep terlebih dahulu dan hanya track event yang benar-benar penting dan bisa memberikan pengaruh besar terhadap performa website kita.

Panduan pembuatan event bisa dilihat di halaman Google Developer Guides.

1. Events Overview

analytics report behavior events overview

Pada Events Overview report ini kita bisa melihat summary dari aktifitas interaksi tiap event di website kita. Dengan bantuan metrics seperti Total Events, Event Value dan lain sebagainya. Kita bisa tentukan event mana yang akan kita optimasi.

2. Top Events

Disini kita bisa mengamati event mana yang paling banyak mendapatkan interaksi. Kita juga bisa mengetahui apakah event yang seharusnya banyak mendapat interaksi sudah memberikan performa yang diinginkan atau belum.

3. Pages

Report ini memberikan insight halaman mana saja yang paling banyak menyumbangkan interaksi events.

Umumnya halaman yang tampil adalah landing page yang memang kita buat untuk mendapatkan banyak interaksi. Tapi jika kita temukan ada halaman lain yang performanya lebih bagus, kita bisa gunakan halaman tersebut untuk keperluan campaign kita.

4. Event Flow

analytics report behavior events flow

Dalam section Event Flow ini, kita bisa ketahui alur interaksi tiap event di website kita. Apakah tiap event dalam funnel kita memang mendapatkan interaksi sesuai dengan yang kita rancang sebelumnya.

Contoh, kita membuat event ketika user mengklik tombol ‘Pesan Sekarang’ di landing page kita. Dan setelah itu mereka harus mengisi data diri dan kemudian meng klik tombol ‘Kirim Data Pemesanan’ untuk mengirimkan data tersebut ke kita.

Seharusya dari aktifitas yang kita rancang tersebut ada sebuah alur yang terdiri dari beberapa step, dimana masing-masing step nya adalah sebuah event.

Klik Tombol ‘Pesan Sekarang’ >> Isi Data Diri >> Klik Tombol ‘Kirim Data Pemesanan’

Nah di Event Flow ini kita bisa melihat alur event tersebut dan mengetahui performa dari masing-masing step.

Jika ada suatu step yang ternyata menjad penyebab konversi funnel menjadi sangat kecil, kita bisa memutuskan apakah event tersebut perlu dioptimasi lagi atau malah harus langsung kita hilangkan.

Behavior Report #5 – Publisher

Section Publisher dalam Behavior Report ini sebelumnya lebih dikenal dengan nama ‘Adsense’. Report ini memang mengintegrasikan akun Adsense kita dengan Google Analytics.

Jika kita memasang Adsense di website kita, maka report ini akan sangat berguna untuk mengetahui aktifitas apa saja yang terjadi di website kita yang berhubungan dengan Banner Adsense yang kita pakai, dimana informasi tersebut dapat membantu untuk meningkatkan revenue Adsense.

1. Publisher Overview

analytics report behavior publisher overview

Di bagian Publisher Overview ini bisa menunjukkan seberapa besar revenue yang sudah kita hasilkan di Google Adsense. Selain itu juga bisa dilihat berapa besar rata-rata CTR (Click-Through Rate) dari banner adsense yang kita pasang.

Dengan bantuan halaman ini, kita tidak perlu lagi berulang kali mengecek akun Adsense kita, karena semua informasi yang kita butuhkan sudah bisa dilihat disini. Kecuali jika akun Adsense kita digunakan untuk banyak website sekaligus.

2. Publisher Pages

analytics report behavior publisher pages

Dalam report Publisher Pages ini kita bisa temukan halaman mana saja yang menghasilkan revenue paling besar untuk Google Adsense kita.

Sangat direkomendasikan untuk menganalisa kenapa halaman-halaman tersebut bisa mendapatkan revenue yang besar. Analisa apa saja faktor yang ada di halaman tersebut yang kemungkinan besar pengaruhnya dan terapkan taktik yang sama untuk halaman lainnya di website kita.

3. Publisher Referrers

analytics report behavior publisher referrers

Disini kita bisa temukan referrer traffic yang membuat visitor datang ke website kita dan akhirnya klik salah satu banner Adsense yang ada. Dengan mengetahui informasi ini, jika kita ingin mendapatkan revenue yang lebih besar kita bisa fokus untuk mendapatkan traffic dari referrer tersebut.

Behavior Report #6 – Experiments

Section Experiments ini termasuk fitur yang cukup advance. Disini kita bisa melakukan A/B Testing untuk beberapa elemen di website kita. Seperti variasi landing page mana yang lebih bagus untuk konversi, warna tombol apa yang lebih banyak di klik, dan lain sebagainya.

Kita akan bahas cara melakukan experiments di Google Analytics di artikel lain.

Tingkatkan Konversi di Website Dengan Google Analytics Conversions Report

Report ini adalah salah satu report paling penting di Google Analyitcs, terutama kalau kita mau memahami bagaimana visitor kita bisa terkonversi menjadi leads ataupun buyers.

Dengan paham alurnya kita bisa lebih terstruktur dalam ekspansi marketing kita. Dan Conversion Report ini adalah panduan kita karena disini ditunjukkan langkah-langkah apa saja yang dilakukan visitor dari pertamak kali masuk ke website sampai terkonversi menjadi lead atau buyer.

Conversion Report ini terbagi dalam 4 section utama. Tetapi, data standar dari conversion report seperti jumlah conversion yang terjadi bisa juga kita temukan di standard report lain di Analytics.

Sebelum kita bahas satu per satu tiap section nya, kita harus mengerti dulu metrics standard yang ada di report ini, seperti di bawah ini:

Goal Completions

Metric ini menunjukkan jumlah conversions yang terjadi.

Goal Value

Metric ini menunjukkan total value yang diperoleh dari sebuah conversion yang terjadi. Dimana totalnya dihitung dari jumlah conversions dikalikan dengan value dari masing-masing conversion.

Goal Conversion Rate

Jumlah dari masing-masing rasio konversi tiap goal (dalam persen).

Total Abandonment Rate

Rasio dari tiap setiap interaksi yang belum terkonversi menjadi goal dibandingkan dengan jumlah goal.

Assisted Conversions

Berapa konversi yang terjadi dari sebuah channel yang berkontribusi dalam funnel tertentu, tapi bukan channel yang menghasilkan conversion langsung.

Assisted Conversions Value

Total value dari conversions yang dihasilkan dari kontribusi sebuah channel tertentu yang bukan channel yang menghasilkan conversion langsung.

Sebelum kita bisa mulai menganalisa conversions, kita harus menentukan dulu conversions apa yang mau kita track. Dan kemudian kita setup sebagai Goal di Google Analytics.

Di Google Analytics sendiri ada empat tipe Goal standar yang bisa kita track:

  • URL Destination
  • Visit Duration
  • Pages / Visit
  • Events

Tipe Goal yang paling simple yang bisa di track adalah URL Destination, karena kita tidak perlu melakukan setup tambahan di dalam website.

Tipa Goal URL Destination ini artinya jika ada visitor yang mengunjungi sebuah halaman tertentu di website kita, maka kita akan menganggap aktifitas itu sebagai sebuah conversion.

Berikut beberapa contoh ide goal tipe URL Destination yang bisa kita buat

Contoh 1:

Jika kita punya landing page dan ada form opt-in di dalamnya, kita bisa membuat halaman thank you yang akan dilihat visitor setelah subscribe.

Contoh 2:

Kalau website kita berbentuk toko online dimana visitor harus mengisi form order terlebih dahulu, kita juga bisa membuat halaman thank you yang akan dilihat visitor setelah mengisi form order. Setiap kunjungan di halaman thank you tersebut akan kita track sebagai conversion

Bagaimana dengan cara setup Goal nya di Analytics. Sebagai contoh, berikut cara setup Destination Goal:

Step-1

Masuk ke halaman Admin di Google Analytics, lihat bagian dan piliha view yang akan disetup Goal nya. Kemudia klik pilihan menu Goals.

analytics report conversion goal setting

Step-2

Klik ‘NEW GOAL’ untuk membuat Goal baru.

analytics report conversion goal setting

Step-3

Pilih custom dan kemudian klik ‘continue’.

analytics report conversion goal setting

Step-4

Beri nama pada Goal yang dibuat. Pilih tipe Destination, dan kemudia klik ‘Continue’.

analytics report conversion goal setting

Step-5

Tentukan detil dari Goal kita, karena tipe Goal nya kali ini adalah Destination, maka kita akan masukkan URL halaman thank you kita. Kita juga bisa menentukan value dari Goal kita (opsional).

analytics report conversion goal setting

Step-6 (opsional)

Jika kita ingin Goal kita hanya dihitung setelah visitor mengunjungi halaman tertentu, misalnya harus mengunjungi landing page dulu. Kita bisa lakukan konfigurasi Funnel.

Aktifkan tombol Funnel, isi nama tiap funnel dan URL nya, aktifkan pilihan required.

Kemudian klik save jika telah selesai.

analytics report conversion goal setting

Setelah selesai setup Goal seperti diatas, Google Analytics akan mulai mentrack aktifitas visitor dan jika terjadi conversion seperti yang sudah kita tentukan, data conversionnya dapat kita lihat di Conversion Report.

Sekarang kita akan bahas tiap section pada Conversion Report.

Conversions Report #1 – Goal

Di section ini kita akan lihat detil dari tiap Goal yang kita tentukan.

1. Goal Overview

analytics report conversion goal overview

Goal Overview menunjukkan summary dari tiap Goal yang sudah kita buat, berapa banyak Goal yang terjadi (Goal Completions), berapa total value nya (Goal Value), rasio tiap Goal (Conversion Rate), dan metrics lainnya.

Disini juga kita bisa secara cepat melihat halaman mana saja yang menyumbangkan Goal paling banyak dan juga traffic source mana yang berkontribusi paling besar menyumbangkan Goal.

2. Goal URLs

analytics report conversion goal url

Di Goal URL report kita bisa mengetahui secara detil halaman mana saja yang menyumbangkan Goal.

Jika kita hanya membuat Goal bertipe Destination, maka URL yang muncul adalah URL yang kita tentukan dalam Goal, seperti URL halaman thank you atau halaman konfirmasi.

Untuk mendapatkan insight tambahan dari Report ini kita bisa mengkombinasikan data URL dengan Goal Previous Step – 1 melalui ‘secondary dimensions’.

Dengan kombinasi ini kita bisa mengetahui halaman mana saja yang dikunjungi visitor sebelum masuk ke halaman Destination Goal kita.

3. Reverse Goal Path

analytics report conversion goal reverse

Report Reverse Goal Path ini menunjukkan 4 step atau 4 halaman yang dilalui visitor di dalam alur Goal kita.

Pada contoh dibawah ini kita bisa lihat beberapa pola yang dilakukan visitor sebelum aktifitasnya di track sebagai Goal. Ada yang mengunjugi halaman depan atau homepage terlebih dahulu (direpresentasikan sebagi ‘/‘), ada yang membuka halaman freelance-writing lebih dahulu, dan ada juga yang membukan halaman contact terlebih dahulu.

Dari report ini, kita bisa mendapatkan dua insight:

Pertama, kita bisa tahu step mana yang paling banyak menyumbangkan Goal di website kita.

Kedua, kita bisa tahu berapa step interaksi yang dilalui visitor kita sampai akhirnya terkonversi menjadi Goal.

4. Funnel Visualization

analytics report conversion goal funnel

Jika kita membuat Goal bertipe Destination yang mengharuskan visitor melalui beberapa step terlebih dahulu, kita bisa melihat konversi tiap step nya di di Funnel Visualization. Contoh diatas adalah kalau kita tidak setting funnel dalam destination Goal kita.

Kalau kita melakukan setting Funnel, maka contoh tampilan Funnel Visualization nya seperti dibawah ini:

  analytics report conversion goal funnel

Dari contoh diatas kita bisa lihat konversi tiap step dalam funnel kita. Jika kita menemukan ada satu step yang membuat banyak visitor keluar dari funnel goal, kita bisa melakukan optimasi di halaman tersebut atau menghilangkannya agar konversi funnel kita bisa meningkat.

5. Goal Flow

analytics report conversion goal flow

Hampir mirip dengan Funnel Visualization. Goal Flow ini menunjukkan path apa saja yang dilalui user sampai akhirnya terkonversi menjadi Goal.

Bedanya Goal Flow ini menampilkan informasi tersebut dalam bentuk flowchart. Dan juga kita bisa melakukan segmentasi visitor di report ini.

Conversions Report #2 – Multi Channel Funnel

Secara default, Google Analytics akan menghubungkan conversion yang terjadi dengan traffic source terakhir yang membawa visitor ke website kita, istilah ini dinamakan dengan Last-Click Atribution.

Padahal sebenarnya bisa saja ada banyak traffic source yang memberikan kontribusi terhadap Goal kita. Misalnya kita melakukan campaign di Facebook Terlebih dahulu untuk membawa visitor yang akhirnya subscribe di website kita, kemudian kita melakukan email marketing dan akhirnya subsciber kita melakukan pembelian setelah klik link promosi di dalam email.

Google Analytics akan menunjukkan conversion tersebut berasal dari Email, padahal kita juga tahu bahwa Facebook juga berperan dalam conversion tersebut.

Ada banyak contoh kombinasi beberapa traffic source lain yang mungkin terjadi. Kemungkinannya sangat banyak.

Di section Multi Channel Funnel ini kita akan melihat bebera kombinasi yang paling sering terjadi.

1. Overview

analytics report conversion multi channel

Multi-Channel Overview ini menunjukkan summary dari setiap kombinasi traffic source atau marketing channel yang berkontribusi menyumbangkan Goal di website kita.

2. Assisted Conversions

analytics report conversion multi channel assisted

Assisted conversions ini menunjukkan berapa banyak conversion dimana channel tertentu berkontribusi di dalam alur conversion, tapi angka ini bukanlah jumlah conversion yang sebenarnya.

Disini kita bisa melihat channel mana saja yang berkontribusi terhadap conversion.

3. Top Conversion Path

analytics report conversion multi channel top

Di Top Conversion Path kita bisa melihat alur tiap channel yang dilalui user sampai akhirnya menjadi conversion dan juga berapa jumlah conversion yang terjadi dari tiap alur tersebut.

Contoh diatas menunjukkan visitor pertama kali masuk ke website lewat search engine (organic search), dan akhirnya mengunjungi website kita secara langsung tanpa melalui traffic source lain (direct).

Jika kita ingin melihat detil dalam bentuk traffic source dan bukan sebagai channel, kita bisa melakukannya dengan memilih ‘source / medium path’.

analytics report conversion multi channel top

4. Time Lag

Report Time Lag ini menunjukkan berapa lama (dalam satuan hari) selang waktu antara visitor pertama kali datang ke website kita sampai mereka melakukan conversion.

analytics report conversion multi channel time

Kita bisa memanfaatkan data dari report ini untuk memutuskan apakah kita perlu melakukan campaign retargeting atau tidak untuk selang waktu tertentu.

5. Path Length

analytics report conversion multi channel path

Report Path Length ini menunjukkan berapa banyak interaksi yang dibutuhkan visitor sampai akhirnya melakukan conversion.

Conversions Report #3 – Atribution

analytics report conversion atribution

Ini adalah report terakhir yang kita bahas di panduan ini.

Atribution memiliki satu report yang bisa membantu kita untuk lebih memahami perbedaan setiap ‘model attribution’ dan pengaruhnya terhadap conversions.

Tujuannya adalah agar kita tidak salah melangkan atau terlalu cepat dalam memutuskan apakah suatu traffic source benar-benar memberikan dampak yang signifikan terhadap conversions atau ternyata ada traffic source lain yang lebih besar kontribusinya.

Karena secara default Google Analytics menggunakan last-click attribution yang berarti traffic source yang merupakan touch point terakhir lah yang diberikan credit conversions, tidak perduli apakah sebelumnya banyak traffic source lain yang berperan dalam ‘conversions funnel’ nya.

Berikut contoh kasus dari Google Analytics

“A customer finds your site by clicking one of your AdWords ads. She returns one week later by clicking over from a social network. That same day, she comes back a third time via one of your email campaigns, and a few hours later, she returns again directly and makes a purchase.”

Artinya kira-kira begini:

Visitor datang pertama kali ke website kita melalui sebuah iklan di Adwords. Dia kemudian datang kembali ke website kita melalui sebuah posting di social media, tapi belum melakukan conversion apapun.

Di hari yang sama dia kembali datang ke website kita melalui suatu link yang kita sebarkan lewat email campaign, tapi dia juga belum melakukan conversion apapun.

Sampai akhirnya beberapa jam kemudia, dia kembali datang ke website kita secara langsung tanpa lewat campaign apapun dan dia pun melakukan pembelian di website kita.

Dari contoh kasus tersebut, jika kita berpatokan pada default Google Analytics yaitu last-click attribution, maka credit untuk conversions tersebut akan 100% diberikan kepada ‘Direct Channel’ padahal dalam conversions funnelnya ada banyak traffic source yang berkontribusi.

Bisa jadi visitor tersebut sudah dalam “buying phase” saat datang ke website kita via email campaign yang kita lakukan, tapi ternyata harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Dan diapun karena memang sudah dalam “buying phase”  datang kembali ke website kita secara langsung untuk menyelesaikan pembelian.

Jika kita hanya berfokus pada last-click interaction, kita menganggap hanya channel terakhir saja yang perlu kita optimasi padahal belum tentu channel tersebut yang paling efektif, kita harus tetap membandingkan setiap channel dalam conversions funnel.

Contoh model attribution lainnya dalam Google Analytics bisa dipelajari disini.

Conversions Report #4 – Ecommerce

Di panduan ini sengaja tidak akan dibahas tentang Ecommerce Report, karena kita akan membahasnya di panduan lain yang khusus membahas tentang tracking Ecommerce.

Conclusion

Google Analytics memberikan banyak sekali pilihan cara untuk mendapatkan data dan menganalisanya, tergantung pendekatan apa yang kita gunakan.

Setiap report yang ada bisa memberikan insights yang berbeda dan juga punya treatment sendiri untuk analisis dan optimasinya. Jadi, kita harus lebih bijak tentang apa yang akan kita prioritaskan dibagian mana kita akan memfokuskan sebagian besar resource kita.

Anda sudah menyelesaikan 3 dari 6 bab
45%

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *